Urusan membaca mungkin jarang disinggung dalam kelas menulis. Kalaupun disinggung, paling bentuknya hanya saran kepada peserta agar mereka membaca. Padahal kebiasaan membaca merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki penulis cerpen terkenal. Dalam materi ini akan dikupas tuntas kecakapan latihan membaca oleh AS Laksana.
Saya ingin mendekati urusan membaca ini dengan cara yang sedikit berbeda. Bagi saya, membaca juga merupakan satu dari sekian jumlah kecakapan yang mestinya dimiliki oleh setiap penulis. Saya punya keyakinan bahwa setiap penulis besar pada umumnya adalah pembaca besar.
Para pembaca besar, yaitu orang-orang yang antusias membaca, akan memiliki kekayaan kosakata, dan kekayaan kosakata akan membuat orang mampu mengekspresikan gagasan secara lebih elegan.
Kekayaan kosakata juga membuat kita lebih mudah memahami apa yang kita baca. Ini jelas kita rasakan jika kita belajar bahasa asing. Jika kosakata kita masih sedikit, kita sulit memahami bahkan tulisan sangat sederhana dalam bahasa asing itu. Seiring waktu, ketika kosakata kita berkembang, kita mulai mampu memahami apa yang semula tidak kita pahami. Selanjutnya, kita sanggup mencerna kalimat yang lebih kompleks.
*
Berkenaan dengan kecakapan membaca, ada saran bagus dari Ray Bradbury, penulis fiksi ilmiah–dan menurut saya salah satu yang terbaik di genre itu–untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Yang perlu anda lakukan adalah mengisi kepala dengan hal-hal yang menakjubkan … Saya akan memberi anda program sederhana yang bisa anda lakukan setiap malam. Jadi, mulai sekarang hingga seribu malam ke depan, sebelum anda tidur, bacalah satu cerita pendek. Itu hanya memerlukan waktu paling lama 15 menit. Lalu baca satu puisi para maestro … Baca puisi para maestro masa lalu. Baca puisi Shakespeare, Robert Frost, Alexander Pope. Satu puisi karya penyair besar setiap malam. Lalu satu esai. Baca esai berbagai topik. Tentang politik, artropologi, arkeologi, zoologi, biologi, sains, dan sebagainya. Satu esai setiap malam. Itu berarti setiap malam, selama seribu hari, anda mengisi kepala anda dengan satu cerita pendek, satu puisi, dan satu esai. Di malam keseribu, astaga!, kepala anda akan penuh dengan hal-hal yang menakjubkan, bukan?”
Ray Bradbury menyampaikan saran itu dalam pidatonya di acara simposium tahunan para penulis, 2001.
Anda hanya memerlukan waktu paling banyak 30-45 menit untuk menjalankan saran Ray. Bukan waktu yang panjang saya pikir; ia hanya setara dengan satu jam pelajaran murid sekolah menengah.
*
Masalahnya adalah bagaimana memilih cerita pendek, puisi, dan esai yang akan kita baca tiap malam. Di kelas Menggambar dengan Kalimat, saya menyarankan karya-karya para pemenang Nobel Sastra atau karya para penulis yang setara dengan para pemenang Nobel.
Jika anda tidak punya hambatan membaca dalam bahasa Inggris, anda akan mudah mendapatkan bacaan-bacaan yang dimaksudkan oleh Ray Bradbury. Jika sebaliknya, anda harus menemukan karya-karya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan karya-karya terjemahan dalam bahasa Indonesia, apa boleh buat, acapkali mengecewakan penerjemahannya.
Lupakan waktu seribu hari yang disebut oleh Ray jika anda merasa itu terlalu lama. Seminggu saja anda mengisi tiap malam dengan satu cerita pendek, satu puisi, dan satu esai, anda sudah akan menjadi orang yang berbeda. Satu bulan akan lebih baik. Dua bulan, anda akan kian berbeda, dan seterusnya.
Saya mohon betul-betul lupakan waktu seribu hari. Lebih baik anda pikirkan hari ini saja: Hari ini, menjelang tidur nanti, anda membaca satu cerita pendek, satu puisi, satu esai. Dengan berfokus pada apa yang anda kerjakan hari ini, nanti anda akan tiba juga di hari keseribu. Agar urusan anda menjadi lebih mudah, sebaiknya anda siapkan sekarang apa cerita, puisi, dan esai yang akan anda baca nanti malam.
Mengisi kepala dengan bacaan-bacaan bagus sebelum tidur akan menjadi bekal tidur yang menyenangkan. Setidaknya, itu pengalaman saya bertahun-tahun sejak saya mulai senang membaca di masa sekolah.
Meskipun ada orang lain yang menyarankan anda perlu juga membaca tulisan-tulisan jelek, saya lebih suka menyarankan hindari tulisan-tulisan jelek. Membaca tulisan jelek akan seperti siksaan, dan itu akan membuat anda merasa sedang dihukum. Baca tulisan bagus. Membaca tulisan-tulisan bagus akan membuat anda menikmati tamasya yang menyenangkan.
Tetapi kadang-kadang saya sengaja membaca tulisan jelek juga. Dan ia menghibur juga, sebab sebuah tulisan bisa menjadi lucu saking jeleknya dan membuat kita tertawa.
*
Jika anda merasa keberatan menjalankan nasihat Ray Bradbury, saya menyarankan yang seringan-ringannya, yang anda pasti bisa jalankan: Satu paragraf setiap malam setelah anda naik ke tempat tidur. Atau, jika anda bersedia, satu paragraf cerita pendek, satu puisi, dan satu paragraf esai.
Itu target minimal. Yang penting anda sekarang memiliki kebiasaan baru, ialah membaca setiap malam–jika anda belum memilikinya.
Satu paragraf cukup untuk membangun kebiasaan membaca setiap hari. Siapa pun mampu melakukannya dan itu hanya memerlukan waktu satu-dua menit.
*
Saya menyampaikan kutipan nasihat Ray Bradbury karena ia cocok dengan rencana saya untuk kelas ini. Saya tidak ingin sekadar menyampaikan tentang bagaimana menumelis cerita pendek; saya ingin anda memiliki kebiasaan yang memungkinkan anda menulis, cerita pendek atau apa pun, dengan kualitas sebagus yang bisa anda upayakan.
Dan, sekali lagi, kualitas adalah hasil dari anda melatih diri dalam hal-hal teknis, sehingga anda mampu menggunakan kecakapan-kecakapan teknik anda untuk menulis lebih baik.
Saya akan mengingatkan terus bahwa menulis tak beda dengan keterampilan-keterampilan lain, misalnya badminton dan sepakbola.
Dalam pelatihan badminton, setiap pemain pasti berlatih smes, bahkan sekiranya ia bukan pemain bertipe menyerang. Mereka berlatih smes agar bisa menggunakannya pada waktu yang tepat. Para pemain sepakbola berlatih menendang penalti, meskipun tidak dalam setiap pertandingan ada hukuman penalti atau harus diakhiri dengan adu penalti. Mereka berlatih tendangan penalti agar bisa melakukannya secara sempurna saat dibutuhkan.
Anda berlatih metafora bukan untuk menaburi tulisan dengan metafora di tiap paragraf atau di tiap kalimat. Anda berlatih metafora agar terampil bermetafora, mampu menciptakan metafora yang segar dan memikat, dan bisa memanfaatkannya untuk memperkuat tulisan kita. Agar tulisan kita tidak datar-datar saja.
“Saya pikir cerita saya sukses karena saya memiliki sense metafora yang kuat,” kata Ray Bradbury dalam sebuah wawancara. “Saya dibesarkan dengan mitologi Yunani, mitologi Romawi, mitologi Mesir, dan mitologi Skandinavia. Ketika anda memiliki semua itu di dalam kepala anda, metafora anda akan sangat kuat, dan pembaca tak akan bisa melupakan metafora yang kuat.”
Begitupun dengan semua perangkat literer lainnya yang berurusan dengan penyusunan kalimat. Anda mempelajari itu semua, melatih diri, memberi porsi lebih untuk teknik-teknik yang anda anggap utama, agar anda bisa menggunakan teknik-teknik itu saat diperlukan--untuk membuat tulisan anda lebih elegan.
Bahkan hal yang kelihatannya sepele, misalnya tanda titik dua (:). Anda tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana cara menggunakannya jika anda tidak mencari tahu fungsi tanda itu dalam tata bahasa. Tetapi sekadar mendapatkan pengetahuan pun tidak akan banyak gunanya; anda perlu melatih diri untuk mengubah pengetahuan itu menjadi keterampilan.
*
“Apakah anda masih mengerjakan tujuh tindakan kecil dengan resep “Setelah X, saya akan melakukan Y?”
Ini daftar yang kita bicarakan di materi awal:
- Berimajinasi dengan what if
- Memikirkan karakter
- Menulis metafora
- Memikirkan konflik
- Membuat kalimat pembuka
- Membuat kalimat penutup
- Membaca buku (satu paragraf)
Saya berharap anda melakukannya. Jika anda bisa mengerjakan saran Ray Bradbury, saya akan sangat senang. Ditambah dengan enam tindakan kecil lainnya, kebiasaan malam hari yang disarankan oleh Ray akan membuat anda melangkah lebih laju.
Kalaupun tidak bisa menjalankan saran Ray hari ini juga, satu paragraf setelah anda naik ke tempat tidur sudah cukup. Nanti, ketika anda merasakan gairah yang meluap-luap untuk membaca satu cerpen, satu puisi, dan satu esai, anda bisa melakukannya. Target minimal anda adalah setelah anda naik ke tempat tidur anda membaca satu paragraf.
***
0 Comments