Resensi Buku Cak Nun: Buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar

apa-yang -benar-bukan-siapa-yang-benar

Buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar, karya Muhammad Ainun Nadjib alias Cak Nun ini menceritakan mengenai 3 teman yg memliki karakter yg tidak sinkron tabiat & memiliki kekhasan tersendiri, yakni Beruk, Penceng, & Gendon.

Buku ini membahas hubungan antara Simbah beserta ketiga teman tadi pada memaknai setiap tujuan hayati insan & dinamika pada dalamnya.

Cak Nun mengulas memori sosial yg terjadi pada Yogyakarta, yg termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengapa Yogyakarta?! Lantaran Yogyakarta tak jarang dikatakan sebuah ruang atau pengalaman batin yg setiap orang menerima khayalan tersendiri pada sana.

Dalam obrolan ketiga teman tersebut beserta Simbah (Cak Nun), secara sosial Yogya lebih dikenal menggunakan budaya, tradisi, ndawuhi & bebrayan. Tema yg dibicarakan merupakan mengenai Yogya memangku Indonesia.

Kata Yogya memang sangat sensitif, menggetarkan hati & meningkatkan adrenalin. Yogya itu mutiaranya Indonesia, jika NKRI tanpa Yogya maka akan “growak” terdapat lubang gelap pada bangunan karakternya.

Yogya dikenal minumannya yaitu ‘wedang uwuh’. Nampak misalnya sampah akan tetapi terdapat filosofi tersendiri pada wedang uwuh tadi. Wedang uwuh itu diramu berdasarkan macam-macam bahan, yaitu jahe, bunga cengkih, btg cengkih, daun cengkih, kayu secang, pala, daun pala, kayu manis, akar serai, daun serai, gula batu, kapulaga. Dalam wedang uwuh kita mampu bercermin & menemukan kesalahan-kesalahan bangsa kita ini sebagai akibatnya rancu balau, kehilangan kedaulatan, nir percaya diri.

Menurut Beruk, Yogya secara administratif merupakan bagian berdasarkan Indonesia. Tetapi secara historis Yogya berposisi premier pada proses melahirkan Indonesia. Yogya merupakan konstitusi berdasarkan Glagah Wangi keliru satu titik berdasarkan sejumlah titik yg menghamparkan formula metamorphosis sejarah yg diaplikasikan sang Kanjeng Sunan Kalijaga. Keselamatan masa depan NKRI & semua bangsa Indonesia dipangku sang hikmat sejarah Yogya.

Dari istilah Yogya mengayomi Indonesia, bagaimana maksudnya?

resensi-cak-nun


Yang pertama mempertanyakan pulang bentuk, wujud, racikan kebersamaan Indonesia, yg ad interim ini merupa negara republik & diadopsi berdasarkan bangsa yg bukan Indonesia. Yang ke 2, hakikat ngawulo dalam sesama insan menjadi sesuatu yg nir membangun dirinya sendiri, namun diciptakan sang Yang Maha Agung. Dan yg ketiga yaitu agama, tatkala Sang Maha Lembut itu menaburkan kabar mengenai diri-Nya bahwa Ia Ahad Dzat yg Tunggal.

Penceng, memberi tanggapan lain tentang Tuhan Yang Maha Tunggal mencipratkan dirinya menggunakan prinsip & panduan pada hidupnya “Innalillahi wainna ilaihi rojiun”. Semua apa saja yg dari berdasarkan-Nya & akan pulang kepada-Nya. Dalam hal ini Penceng membeberkan mengenai kasus ilat, illat, Ilah & Ilahi. Yang merupakan berdasarkan keempat istilah tadi ilat yg berarti pengecap, illat yaitu menyangkut perubahan. Ilah merupakan Tuhan, & Illahi yg merupakan Tuhanku.

Semua itu indikasi bahwa keliru satu loka terpenting & paling penting berdasarkan kehadiran nilai Tuhan merupakan ilat. Perubahan pada antara disparitas-disparitas itu didasaarkan dalam illat (pengecap). Semakin kita menjaga pengecap kita, semakin kita disayang sang Tuhan.

Dari evaluasi ke 2 sahabat tadi Gendon yg hanya terdiam mempunyai makna tersimpan tentang hal tadi. Gendon, Penceng & Beruk nir pandai, nir hebat, nir jua lantip atau waskita. Mereka nir punya kebiasan buat mencari kebenaran beserta-sama. Tidak cenderung tiba menggunakan “biso rumongso”. Malah menantang siapa saja pada luar dirinya menggunakan perilaku mental “rumongso biso”, merasa unggul, merasa paling sahih, merasa niscaya masuk surga, & seluruh yg akan ditemuinya merupakan para penghuni neraka.

Itu pun mereka sibuk & selalu ribut menggunakan menyimpulkan “siapa yg sahih” & “siapa yg keliru”. Siapa-siapa yg dipercaya sahih, sebagai akibatnya beliau pro, maka disimpulkan 100 %, sedangkan yg keliru niscaya keliru 100 %.

Padahal jika kita telaah, disparitas itu seluruh sahih namun bukan siapa yg sahih akan namun apa yg sahih. Lantaran setiap pendapat mempunyai disparitas. Cara berpikir warga  pun nir diimpit sang fatamorgana bahwa jika terdapat tokoh, orang, instuisi, komunitas, golongan, aliran, & apapun yg dipercaya sahih, beliau selalu 100 % sahih, ad interim yg disimpulkan itu telah niscaya keliru.

Kebenaran itu nir selalu diungkapkan. Kebenaran itu utamanya buat pertimbangan. Diungkapkan atau nir, wajib  diperhitungkan akan menyebabkan kemaslahatan ataukah kemudaratan, kebaikan ataukah keburukan, kemajuan ataukah kemunduruan.

Menyembunyikan kebenaran terkadang adalah kebenaran budaya, meskipun pada pada proses peradilan aturan itu pelanggaran & pemalsuan. Menyatakan kebenaran mampu adalah tindakan kepahlawanan & kemuliaan, namun mampu memicu keburukan sosial jika dilakukan nir dalam irama & momentum sempurna konteks rapikan kelola sosial.

Yang sebernya mau dikejar Beruk, Gendon & Penceng berdasarkan Simbah (Cak Nun) merupakan siapa sebenarnya NKRI menggunakan Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yg mana atau yg bagaimana maksudnya. Dari siapa atau apa Pancasila menyebut Tuhan Yang Maha Esa. Kan Indonesia bukan negara Islam. Jadi Tidak Mungkin Tuhan Yang Maha Esa pada Pancasila itu mengacu dalam Islam berdasarkan Allah.

 

Identitas Buku:

Judul Buku: Apa yg Benar, Bukan Siapa yg Benar

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Penerbit: Penerbit Bentang

Tahun terbit: 2020

No ISBN : ISBN 978-602-291-8

Deskripsi Fisik (Tebal): 247 halaman

  

Penulis Resensi: Eti Nurjanah SPd (Penulis merupakan Pengajar Pegiat Kampung Ilmu Bojonegoro).

Related Posts

Post a Comment

0 Comments