Belajar Menulis Cerpen dengan Satu Metafora

belajar-menulis-cerpen

Menulis adalah sebuah keterampilan. Menulis bukan sesuatu yang secara alami melekat pada diri kita. Ia tidak seperti bernapas, menangis, tertawa, atau mengedipkan mata yang kita bisa melakukannya begitu saja tanpa belajar. Belajar menulis cerpen butuh latihan yang intens dan konsisten. Di sini kita akan membicarakan salah satu teknik menulis cerpen dengan satu metafora. Tulisan ini merupakan materi yang diberikan cerpenis AS. Laksana.

Keterampilan selamanya merupakan hasil dari kebiasaan, dan kebiasaan kita peroleh karena kita melakukan sesuatu berulang-ulang.

Kualitas adalah urusan berikutnya. Ia kita dapatkan karena kita melatih diri, dengan teknik tertentu, untuk meningkatkan penguasaan kita terhadap teknik-teknik yang kita latih itu. Dalam kepentingan motivasi, orang bisa mengatakan yang penting kita menulis saja terus. Pokoknya menulis saja setiap hari.

Yang diabaikan dalam nasihat semacam itu adalah fakta bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, dan untuk menguasai sebuah keterampilan, kita perlu memahirkan diri dalam setiap aspek yang terkandung di dalam keterampilan itu. Hukumnya seperti itu untuk semua bidang keterampilan: badminton, sepakbola, renang, tenis, balap sepeda, bermain gitar, bermain piano, silat, karate, menari, menulis, membaca, dan lain-lain. 

Semua orang bisa memukul dan menendang dan menangkis serangan, tetapi kita bisa melakukan semua itu dengan lebih baik jika kita belajar beladiri. Seni beladiri, apa pun jenisnya, akan memberi tahu kita teknik memukul, menendang, dan menangkis serangan. Kekuatan kita dalam memukul dan menendang, dan kemahiran kita dalam menangkis serangan, ditentukan oleh ketekunan dan kekeraskepalaan kita dalam melatih diri dengan teknik-teknik itu.

Jika seseorang melatih diri mengikuti teknik yang diajarkan oleh karate, ia akan terampil memeragakan pukulan, tendangan, dan tangkisan sebagaimana yang diajarkan dalam seni beladiri itu. Setiap gerakannya menjadi spontan.

Anda harus berhati-hati dengan karateka yang sudah melatih dirinya bertahun-tahun. Jika anda mengejutkannya dengan tepukan pada punggung, anda mungkin akan kena hajar sebagai balasannya karena ia merespons tepukan anda secara refleks.

Saya berharap menulis bagus bisa menjadi gerak refleks bagi anda. Dan itu pasti hasil latihan dengan mengamalkan teknik-teknik tertentu dalam penulisan kalimat, sebab penulis menggambar dengan kalimat.

Latihan dengan tindakan-tindakan kecil setiap hari, yang kita singgung pada hari pertama, adalah cara untuk membuat kita kelak mampu melakukan “gerak refleks” penulisan. Melakukan tindakan-tindakan kecil tidak akan terlalu menguras tenaga dan pikiran. Anda bisa melakukannya secara mudah, seketika, dan tanpa perlu motivasi tinggi.

*

Saya akan menggunakan kesempatan kedua ini untuk membahas metafora dan perumpamaan. Ini perangkat literer yang penting dikuasai untuk membuat tulisan anda lebih kuat, lebih elegan, dan lebih bergaya. Kekuatan metafora dan perumpamaan terletak pada kemampuannya memberi kita gambar kongkret di dalam benak.

Anda menulis metafora, misalnya, “Mulutnya adalah sumber kepedihan.”

Apa yang segera terbayang di benak anda? Apakah anda menemukan satu karakter yang cocok dengan metafora itu? Anda menemukan ide untuk sebuah cerita? Anda melihat sebuah adegan yang berhubungan dengan mulut sebagai sumber kepedihan?

Hari berikutnya anda menulis lagi satu metafora: “Samira adalah matahari, dan aku tak ingin melihat dia terbenam.”

Anda melihat sosok yang lain lagi, atau mungkin menemukan satu adegan lagi, atau mungkin menemukan satu ide cerita lagi.

Hari berikutnya lagi anda menulis satu lagi: “Hidup adalah perjalanan panjang dan dia sering kehabisan bensin di tengah jalan.”

Anda mendapatkan satu gambar lagi.

Selain menyajikan gambar visual yang kongkret, metafora menjadikan ekspresi kita lebih bergaya.

*

pengertian-majas-metafora

Rumus metafora adalah A = B, atau A adalah B.

Dengan metafora kita, secara imajinatif, membuat perbandingan antara dua hal yang berbeda, tetapi memiliki kualitas yang kurang lebih sama.

Kejujuran diperbandingkan dengan mata uang, dan kita mendapati metafora “Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di semua negara.”

Senyum diperbandingkan dengan bahasa, dan kita mendapati metafora “Senyum adalah bahasa yang dipahami semua manusia.”

Mata diperbandingkan dengan cahaya, dan kita mendapati metafora “Matanya adalah cahaya pagi yang membimbingku keluar dari kegelapan.”

Metafora yang baik akan memberi pembaca gambar visual yang bisa lebih kuat ketimbang deskripsi yang berkepanjangan. Dari sisi penulisan, metafora bersifat meringkas penyampaian; pada sisi pembaca, ia memberi keleluasaan untuk meluaskan imajinasi.

Perhatikan bagaimana penulis Nukila Amal memanfaatkan metafora untuk membuka novelnya, Cala Ibi, dengan paragraf pertama yang ringkas dan segar:

Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan.

Bapak diperbandingkan dengan anggrek bulan, ibu dengan mawar merah, bayi merah muda dengan kemboja. Dan ia mengakhiri paragraf pertama  itu dengan sebuah hentakan kuat tentang kemboja, yang menjadi metafora bagi si bayi: bunga kematian.

Dengan metafora, Nukila membuat rangkuman indah, dan imajinatif, tentang kehidupan yang akan diikuti oleh pembaca sepanjang halaman novel tersebut.

Anda bisa saja bermain-main dengan menjadikan paragraf Nukila model untuk menulis metafora tentang bapak dan ibu. “Bapakku adalah tambur, bulat besar dan hanya berbunyi ketika dipukul. Ibuku senapan mesin, menyemburkan seribu peluru dalam semenit.”

*

Perumpamaan hampir sama dengan metafora, tetapi menggunakan kata “seperti” atau kata pembanding lain yang sejenis. Rumusnya adalah “A seperti B”. Kunci keindahannya ada pada detail yang kita gunakan untuk memperkuat perumpamaan tersebut.

  • Rambutnya seperti semak-semak, mungkin di dalamnya ada ular derik bersarang.
  • Ia terlihat megah dan congkak, seperti kue ulang tahun yang mahal, tetapi saya sedang diet.
  • Suaranya menenteramkan, seperti ricik air kali di belakang rumah masa kecilku, dan aku selalu ingin bertemu dengannya dan mendengar ia bicara.

Penulis Sherman Alexie, dalam bukunya The Absolutely True Diary of a Part-time Indian, meledek dirinya sendiri dengan perumpamaan huruf L, untuk menggambarkan sosoknya di masa kecil:

Dengan kaki besar dan badan pensil, aku terlihat seperti huruf L kapital yang terhuyung-huyung di jalanan.

Ada metafora juga di dalam kalimat itu, yaitu “badan pensil”. Ia tidak menyebut badan kurus, tetapi badan pensil.

*

cara-menulis-cerpen

Cara membiasakan diri dengan metafora dan perumpamaan adalah melekatkannya pada kebiasaan kita sehari-hari. Anda bisa menggunakan mandi, atau duduk di kloset, atau menyiram tanaman, atau memberi makan binatang piaraan, atau membuka jendela kamar, atau apa pun kebiasaan sehari-hari anda sebagai pengingat.

  • Setelah membuka jendela kamar, saya akan menulis satu metafora.
  • Setelah duduk di kloset, saya akan membuat satu metafora.
  • Setelah memberi makan kucing, saya akan menulis satu metafora.
  • Setelah menyiram tanaman, saya akan menulis satu metafora.

Silakan memilih kebiasaan mana pun yang anda pikir paling tepat untuk dipasangkan dengan perilaku baru berupa tindakan menulis satu metafora, dan biarkan ia berkembang menjadi refleks.

Katakanlah anda memilih “setelah membuka jendela kamar, saya akan menulis satu metafora”. Anda akan segera mendapati bahwa kedua tindakan ini akan menjadi satu pasangan yang sulit dipisahkan, dan itu berarti anda akan memiliki satu kebiasaan baru yang positif bagi perkembangan penulisan anda.

Seorang perokok mungkin memiliki kebiasaan “setelah makan, saya akan merokok”. Maka, begitu selesai makan, dia akan otomatis menyulut sebatang rokok. Anda juga akan begitu dengan metafora. Setelah membuka jendela, anda akan otomatis menulis metafora. Tiba-tiba membuat metafora akan sama entengnya dengan merokok.

Merokok setelah makan bisa menjadi kebiasaan karena hal itu mudah dilakukan. Orang tidak memerlukan motivasi tinggi untuk menyulut rokok setelah makan.

Menulis satu metafora setelah membuka jendela kamar, atau setelah tindakan apa pun yang anda pilih, sama mudahnya dengan merokok setelah makan. Jadi, ia akan cepat menjadi kebiasaan bagi anda.

*

Saran umum tentang metafora adalah jangan menggunakan metafora yang sudah sering digunakan orang. Itu usang. Metafora usang kehilangan kekuatannya. Cara terbaik adalah menggunakan metafora ciptaan kita sendiri.

Untuk mempermudah latihan anda setiap hari, anda bisa membuat metafora sebebas-bebasnya, segila-gilanya, dengan membandingkan satu hal dengan hal lainnya, satu benda dengan benda lainnya, satu orang dengan apa saja.

Tulis saja benda-benda atau apa saja yang berkaitan dengan laut, yang berkaitan dengan bumi, yang berkaitan dengan langit, yang ada di dalam rumah anda, yang berkaitan dengan cuaca, yang berkaitan dengan kota, dan sebagainya. Perbandingkan benda-benda itu dengan apa saja: manusia, kehidupan, individu tertentu, atau konsep-konsep.

  • Nenek adalah lumba-lumba besar yang setiap hari berbaring saja di tempat tidurnya.
  • Dia datang kepadaku suatu pagi dan kami menikah dan sejak itu kehidupan selalu malam hari.

Karena yang anda lakukan hanya latihan, anda boleh saja membuat metafora yang buruk, yang mungkin tidak nyambung, yang tidak membuat anda berpikir terlalu lama.

  • Dia adalah gayung.
  • Adikku adalah kincir angin.
  • Paman adalah ganggang laut.
  • Dia adalah padang rumput bagi kijang yang lapar.

Target anda setiap hari adalah membuat satu metafora setelah anda melakukan satu tindakan, dan itu paling hanya meminta waktu satu menit. Selamat melatih diri. Anda tetap melakukan tujuh tindakan kecil setiap hari, yang anda lekatkan dengan tindakan-tindakan rutin anda sehari-hari.

 

Related Posts

Post a Comment

0 Comments