Menyusun Cerpen Secara Detail dan Kecakapan Berkalimat

menyusun-cerpen

Sebagai seorang penulis cerpen tentu dibutuhkan kemahiran menyusun cerpen secara detail. Susuan bisa dimulai dari kecakapan menulis kalimat yang efektif dan menarik. Nah, kali ini AS. Laksana membagikan materi tentang detail dan kecakapan berkalimat ketika menyusun cerpen. 

Pada suatu hari saya punya ide cerita yang sangat bagus dan saya kembangkan ide itu dengan berbagai perangkat penyusunan cerita yang saya kuasai. Saya pikirkan tokoh-tokohnya, saya pikirkan kejadian-kejadian dramatisnya, saya pikirkan adegan yang paling menyentuh, saya pikirkan konfliknya, saya pikirkan krisis yang dialami si tokoh, saya pikirkan adegan pembukanya, saya pikirkan adegan penutupnya, dan sebagainya.

 

Setelah semua itu, saya menyusun sebuah outline cerita dan meminta Nara, anak bungsu saya, menulis cerita berdasarkan outline yang sudah saya buat sangat rinci itu. Apa yang bisa dilakukan oleh anak sebelas tahun yang tidak tahu apa-apa soal penulisan? Tidak ada.

 

Kecakapannya berkalimat tidak memadai untuk menulis cerita.

 

Karena Nara gagal, saya serahkan outline itu ke orang yang lebih tua, ialah ibu si bocah. Hasilnya? Sama saja. Istri saya tidak tertarik pada kalimat dan tidak pernah mempelajari teknik menulis. Kecakapannya berkalimat tidak memadai untuk membangun paragraf, membuat metafora, memperkenalkan tokoh, melukiskan situasi, menggambarkan tempat, membuat dialog, menciptakan adegan, dan sebagainya.

 

Ia mampu membuat kalimat untuk kepentingan sehari-hari: menulis pesan post-it untuk anak-anak, mencatat daftar belanja bulanan, atau berbalas pesan WA dengan teman-temannya.

 

Untuk lebih canggih dari itu dia tidak mampu, dan mengarang cerita membutuhkan kecakapan berkalimat yang lebih canggih ketimbang mencatat daftar belanja bulanan: ia melibatkan penguasaan kita terhadap berbagai perangkat kebahasaan demi menghasilkan penulisan yang elegan.

 

Itu sebabnya kecakapan berkalimat harus kita masukkan ke dalam sejumlah elemen yang diperlukan untuk menulis cerpen, dan kita harus melatih diri untuk menguasai kecakapan berkalimat.

 

*

 

Kita kembali ke pernyataan yang sangat terkenal God is in the details: detail adalah juru selamat tulisan kita, sumber keindahan tulisan kita, penuntun bagi gerak cerita kita. Sejauh ini tidak ada satu manusia pun yang menyanggah kebenaran pernyataan itu. Masalahnya hanya bagaimana menyampaikan detail dalam cara yang memikat dan dalam takaran yang tepat.

 

Cara yang memikat berurusan dengan teknik penyajian, dan lagi-lagi kita bertemu dengan kalimat, sebab kita menyajikan apa pun dengan kalimat.

 

Takaran yang tepat berurusan dengan pengalaman kita menulis dan membaca. Tidak ada resep baku untuk urusan ketepatan takaran.

 

*

 

Satu nasihat yang sering kita dengar, dan saya juga berulang kali ikut menyampaikannya, ialah tuliskan deskripsi dengan detail yang berkaitan dengan lima indra. Dengan detail lima indra, dunia rekaan yang kita sampaikan kalimat demi kalimat di halaman buku, atau di layar komputer, atau di lembaran kertas koran dan majalah, akan berubah menjadi dunia tiga dimensi di dalam benak pembaca. Mereka mendengar suara, melihat warna atau bentuk, merasakan persentuhan, mencecap rasa di lidah, dan mencium bebauan.

 

Bagaimana cara elegan untuk memasukkan detail lima indra?

 

Saya tidak punya resep eksak tentang hal ini, tetapi saya akan melakukan sesuatu yang menjadi kebiasaan saya, ialah memanfaatkan setiap celah di dalam kalimat yang bisa saya bubuhi detail. Jika nantinya sejumlah detail perlu saya buang lagi, saya akan membuangnya, tidak ada masalah dengan itu.

 

Kita langsung saja ke contoh, untuk melihat di mana saja tersedia peluang menambahkan detail di dalam sebuah kalimat. Kita mulai dari satu kalimat sederhana:

 

Rudi memperkenalkan aku kepada temannya.

 

Ada tiga orang di dalam kalimat sederhana itu, yaitu Rudi, aku, dan teman Rudi, dan masing-masing orang bisa dibubuhi detail.

 

Selain tiga orang itu, ada tindakan 'memperkenalkan' yang dilakukan oleh Rudi. Kita tahu, semua tindakan, apa pun jenis tindakan itu, selalu bisa diberi detail, misalnya untuk menerangkan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.

 

Lalu secara implisit ada tempat kejadian, sebab setiap kejadian selalu akan berlangsung di satu tempat. Nah, tempat kejadian ini bisa kita eksplisitkan dan kita beri detail.

 

Ada waktu kejadian. Sebagaimana dengan tempat, setiap kejadian selalu berlangsung dalam waktu tertentu. Dan waktu kejadian juga bisa diberi detail.

 

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, kalimat simpel di atas bisa kita beri tekstur untuk menjadi seperti ini:

 

Di tempat parkir, pada siang hari ketika mataku tiba-tiba ingin menangis, Rudi menghampiriku dari arah selatan dan memperkenalkan aku kepada temannya, lelaki kurus dengan janggut awut-awutan dan mata kecil yang memberiku pandangan merendahkan, dan kami saling menjabat tangan, dan aku membencinya sejak pandangan pertama.

 

Atau sedikit berbeda, menjadi dua kalimat:

 

Di tempat parkir, pada siang hari ketika mataku tiba-tiba ingin menangis, Rudi menghampiriku dari arah selatan dan memperkenalkan aku kepada temannya, seorang lelaki kurus dengan janggut awut-awutan dan mata kecil yang tidak menyenangkan. Orang itu memberiku pandangan merendahkan saat kami saling menjabat tangan dan aku membencinya sejak pandangan pertama.

 

Atau:

 

Di tempat parkir, pada siang hari ketika mataku tiba-tiba ingin menangis, Rudi menghampiriku dari arah selatan dan memperkenalkan aku kepada temannya. Lelaki itu bertubuh kurus dan berjanggut awut-awutan. Mata kecilnya memberiku pandangan merendahkan saat kami saling menjabat tangan. Aku membencinya sejak pandangan pertama.

 

Detail yang menarik juga membuka jalan bagi perkembangan cerita. Kita tiba-tiba tahu ke mana cerita akan bergerak. Kita ambil satu kemungkinan, misalnya si “aku” marah kepada Rudi karena diperkenalkan kepada orang yang tidak menyenangkan.

 

Di tempat parkir, pada siang hari ketika mataku tiba-tiba ingin menangis, Rudi menghampiriku dari arah selatan dan memperkenalkan aku kepada temannya, lelaki kurus dengan janggut awut-awutan dan mata kecil yang memberiku pandangan merendahkan, dan kami saling menjabat tangan, dan aku membencinya sejak pandangan pertama.

 

Malam harinya aku menelepon Rudi dan kami bertengkar.

 

“Apa maksudmu memperkenalkan orang itu kepadaku?”

 

“Kita membutuhkan dia, Tik.”

 

“Kita? Kamu mungkin. Aku tidak membutuhkannya.”

 

“Oke, aku membutuhkannya.”

 

“Aku menarik diri kalau begitu.”

 

*

 

menyusun-kalimat

Para penulis menggunakan detail untuk menghidupkan apa saja–situasi, konflik, memperkenalkan tokoh, dan sebagainya–dalam cara semenarik mungkin. Di bawah ini adalah tiga contoh bagaimana para penulis menyajikan detail untuk menampilkan situasi, menyajikan konflik, memperkenalkan tokoh, dan untuk menggambarkan setting.

 

Detail untuk menampilkan situasi:

 

Seekor anjing abu-abu dengan bercak putih di dahinya menerjang wilayah kumuh pasar pada Ahad pertama bulan Desember, merobohkan meja-meja jajanan gorengan, menjungkirbalikkan kios dan lapak lotere orang Indian, dan menggigit empat orang yang kebetulan memotong jalurnya. Tiga dari mereka budak kulit hitam. Yang keempat, Sierva María de Todos los Ángeles, adalah putri tunggal Marquis de Casalduero, yang pergi ke sana ditemani seorang pelayan mulatta karena ingin membeli untaian lonceng untuk perayaan ulang tahunnya yang kedua belas.

 

(Paragraf pertama Love and Other Demons, Gabriel Garcia Marquez)

 

Paragraf itu akan menjadi tidak menarik jika Marquez menuliskannya seperti ini:

 

Pada Ahad pertama bulan Desember, Sierva María de Todos los Ángeles, putri tunggal Marquis de Casalduero, pergi ke pasar ditemani seorang pelayan mulatta. Dia ingin membeli untaian lonceng untuk perayaan ulang tahunnya yang kedua belas. Mereka masuk ke daerah kumuh pasar itu. Di sana ada banyak penjual, di antaranya adalah penjual gorengan dan penjual lotere. Orang Indian yang menjadi penjual lotere. Ada seekor anjing abu-abu berlari di sela-sela keramaian pasar. Binatang itu meggigit tiga budak kulit hitam dan Sierva María de Todos los Ángeles.

 

Saya menggunakan detail yang sama dengan paragraf aslinya, tetapi paragraf yang saya tulis menjadi tidak menarik karena saya menyajikan detail dalam bentuk katalog yang statis. Dalam paragraf aslinya, Marquez memberi kita gambar yang sangat dinamis tentang terjangan si anjing abu-abu dan serangannya kepada empat orang.

 

Detail untuk menyajikan  masalah:

 

Dia meneleponku larut malam, ketika Anna di tempat tidur, dan Mike keluar. Dia meminta tanda tanganku agar bisa mengeluarkan sejumlah uang untuk salah satu putrinya yang sedang membeli flat. Aku membiarkan telepon berdering sembilan kali sebelum mengangkatnya, karena aku tahu itu dia. Biarkan saja! Biarkan saja! kata suara bijak di dalam kepalaku. Tetapi akhirnya aku mengangkatnya, dan semua hal menyakitkan yang tidak pernah kami katakan sebelumnya keluar berhamburan. Dan sekali diucapkan, semuanya itu tak mungkin ditarik lagi.

 

(dari novel A Short History of Tractors in Ukrainian, Marine Lewycka)

 

Detail untuk memperkenalkan tokoh:

 

Dia belum empat puluh tahun, tetapi dia sudah memiliki seorang putri berumur dua belas dan dua bocah lelaki di bangku sekolah. Dia menikah muda, ketika masih mahasiswa tahun kedua, dan sekarang istrinya tampak setengah umur dibandingkan dirinya. Perempuan itu tinggi tegap beralis gelap, tenang dan bermartabat, dan, dalam pengakuannya sendiri, intelektual. Ia banyak membaca dan memanggil suaminya bukan Dmitri, melainkan Dimitri, dan si suami diam-diam menganggap istrinya tidak cerdas, picik, tidak elegan. Dia takut kepada istrinya, tidak suka berada di rumah, dan sudah mulai tidak setia sejak lama--sering tidak setia, dan, mungkin karena itu, dia hampir selalu berbicara buruk tentang wanita dan menganggap bahwa mereka adalah "ras yang lebih rendah."

 

...

 

Pengalaman pahit, pengalaman yang sering berulang, mengajarinya sejak lama bahwa dengan orang baik-baik, terutama orang-orang Moskow yang selalu lambat bergerak dan ragu-ragu, setiap keintiman, yang mula-mula menyenangkan dan terasa sebagai petualangan kecil yang menawan, pada akhirnya akan berkembang menjadi masalah biasa yang sangat rumit, dan dalam jangka panjang situasinya akan menjadi tak tertahankan. Tetapi pada setiap pertemuan baru dengan perempuan yang menawan, pengalaman-pengalaman tersebut tampaknya hilang dari ingatannya, dan dia bersemangat lagi, dan semuanya kembali tampak lucu dan sederhana.

 

(Cerpen The Lady with the Dog, Anton Chekhov)

 

Detail untuk menggambarkan setting:

 

Musim dingin di Ohio sangat membosankan jika kita penyuka warna. Hanya langit satu-satunya yang bisa ditonton, tetapi mengandalkan kaki langit Cincinnati untuk mendapatkan kebahagiaan hidup sungguh tindakan sembrono. Maka Sethe dan Denver melakukan apa yang mereka bisa, dan apa yang diizinkan oleh rumah, untuk mereka lakukan. Bersama-sama mereka mengobarkan perang sekenanya melawan perilaku keterlaluan di tempat itu; pispot yang dijungkirbalikkan, hantaman dari belakang, dan hembusan udara busuk. Sebab mereka memahami sumber kemarahan persis sebagaimana mereka mengenali sumber cahaya.

 

(Novel Beloved, Toni Morrison)

 

Ada satu kesamaan dalam cara para penulis itu untuk menyajikan detail. Mereka melekatkannya pada tindakan tokoh. Dengan cara demikian, penyampaian detail tidak menjadi deretan keterangan yang kaku dan statis.

 

Dan daya tarik detail yang mereka sajikan itu tentu saja ada pada kecakapan mereka menyusun kalimat, ketepatan memilih detail, dan ketepatan takaran.

 

*

 

Setiap orang punya cerita. Baiklah, kita sepakati itu. Namun tidak setiap orang punya kecakapan yang memadai untuk menuliskannya secara menarik.

 

Itu sama halnya dengan setiap orang bisa menyanyi, dan punya lagu kesukaan untuk dinyanyikan, tetapi tidak setiap orang bisa menyanyi dalam cara yang menyenangkan untuk dinikmati oleh orang lain.

 

Jadi, anda perlu mengakrabkan diri dengan kalimat dan meningkatkan kesukaan untuk bermain-main dengan kalimat. Itu akan memperbaiki secara signifikan kecakapan anda menulis.

 

Mungkin perlu menambah satu lagi tindakan kecil untuk dilakukan setiap hari, yaitu melatih diri dengan menambahkan detail pada satu kalimat sederhana.

 

“Setelah saya … (silakan diisi sendiri)..., saya akan menulis detail dari satu kalimat.

 

Related Posts

Post a Comment

0 Comments